INFOBERGIZI.NET — Program prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran, Makan Bergizi Gratis (MBG), digadang-gadang bukan sekadar bantuan sosial, melainkan fondasi strategis untuk membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.
Anggota Komisi IX DPR RI, Indah Kurniawati, menegaskan bahwa program ini adalah wujud nyata dari pelaksanaan Asta Cita keempat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
“Tujuannya jelas: membangun SDM Indonesia yang sehat, kuat, bermartabat, berdaya saing global, dan tahan banting,” ujar Indah dalam sosialisasi MBG di Wiyung, Surabaya, Selasa (10/2/2026).
Politisi PDI Perjuangan ini menjelaskan, pembangunan SDM berkualitas tidak hanya diukur dari aspek fisik semata.
Oleh karena itu, MBG dirancang secara komprehensif. Untuk memastikan efektivitasnya, Presiden Prabowo Subianto secara khusus membentuk Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga pelaksana utama.
“Program ini adalah investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi penerus yang cerdas dan produktif,” tegasnya.
Yang menarik, program MBG dirancang dengan prinsip transparansi dan partisipatif.
Indah mengajak seluruh masyarakat, terutama orang tua, untuk terlibat aktif.
“Bapak dan Ibu diharapkan dapat menyaksikan langsung prosesnya, mulai dari hasil panen petani lokal, pengolahan di dapur produksi, hingga sajiannya di meja makan anak-anak kita. Ini membangun rasa kepemilikan dan memastikan kualitas terjaga,” papar Indah.
Badan Gizi Nasional memiliki tugas strategis untuk “membumikan” visi tersebut, memastikan program berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran.
Indah menutup penjelasannya dengan optimisme tinggi, ia menegaskan bahwa MBG bukan program sesaat.
“Ini adalah investasi strategis berkelanjutan. Targetnya, pada 2045, seluruh anak Indonesia telah tumbuh sebagai generasi emas dengan kualitas unggul dan siap memimpin bangsa di kancah global,” tambahnya.
Sebagai komisi yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan, Komisi IX DPR RI menempatkan MBG sebagai fokus utama.
Program ini dianggap sebagai langkah korektif fundamental untuk meningkatkan kualitas hidup dan masa depan SDM Indonesia, mengawal terwujudnya Indonesia Emas 2045.**
